nurrokhim's blog

Ambillah hikmah walau dari mana asalnya

MATA HATI

Manusia menjalani kehidupan dilengkapi dengan berbagai organ, satu di antaranya adalah hati. Hati atau qolbu merupakan pelita kehidupan, yang menuntun setiap manusia kepada cahaya. Persoalannya sebagian manusia mengalami disfungsi hati. Hatinya buta, hatinya tuli, bahkan hatinya mati, sehingga langkah demi langkah dijalani dalam kegelapan. Hati memiliki mata, sehingga memungkinkan untuk melihat hakikat atau esensi kehidupan.

Dengan mata hati pula manusia bisa ‘melihat’ kekuasaan Tuhan. Hati bisa berkata-kata. Kata hati adalah kata-kata yang keluar dari hati, biasanya jernih memuat tentang esensi kehidupan.Esensi kehidupan adalah kehidupan yang sesungguhnya sebagaimana yang Tuhan rencanakan. Tidak ada daya dan upaya, kecuali atas pertolongan Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Tidak semata-mata manusia dan jin diciptakan, kecuali untuk beribadah kepada Allah. Dengan demikian, esensi kehidupan itu ialah ibadah kepada Allah dan pertolongan Allah. Secuil pun manusia itu tak ada daya, tidak memiliki kemampuan apa-apa.

Sebagai mahluk manusia hanya bergantung kepada Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Namun hal tersebut hanya dapat dilihat oleh mata hati, sehingga kata hati sanggup menyampaikan pengakuan hati, bahwa sesungguhnya hidup manusia hanyalah dari, oleh dan untuk Allah.

Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum tersebut tidak mengubahnya sendiri. Dengan demikian, manusia perlu mengusahakan upaya dalam kehidupannya. Semakin serius upaya yang ditempuh, maka perubahan nasib dengan sendirinya makin berpeluang. Nasib itu berpangkal dari cara dan kebiasaan berpikir.

Kalau seseorang terbiasa berpikir positif, maka akan melahirkan sikap positif. Kemudian dari sikap positifnya itu akan muncul kebiasaan positif, yang lantas berkembang menjadi karakter positif. Nah, dari karakter positif inilah akan muncul nasib positif, nasib yang baik.

Berhati-hatilah dalam berpikir, ternyata pikiran mempengaruhi nasib. Sebenarnya ada yang lebih penting dari sekedar berpikir positif, yaitu berperasaan positif. Orang yang berpikir positif belum tentu berperasaan positif. Sebaliknya, orang yang berperasaan positif, sudah tentu akan berpikir positif. Berpikir positif adalah kerja otak, sedangkan berperasaan positif adalah kerja hati. Dengan demikian, berperasaan positif ialah bagaimana menggunakan mata hati dan kata hati hanyalah dibatasi pada hal-hal yang positif. Enyahkan semua yang negatif, jangan biarkan mendekati hati.

Hati itu begitu sensitif, begitu peka, mudah terpengaruh, gampang terlarut. Beragam informasi yang ditangkap melalui panca indra, dengan secepat kilat bisa singgah dihati, dan hatipun menanggapinya. Oleh sebab itu diperlukan filter hati, supaya informasi yang negative bisa ditolak secara tegas. Filter hati itu ialah mata hati yang jernih dan kata hati yang baik. Dari melihatnya mata terhadap sesuatu, maka gambarnya akan ditangkap hati, disimpan, diproses, sehingga munculah reaksi hati. Jika gambarnya buruk, diproses lalu dienyahkan, maka reaksi hati menjadi netral.

Sebaliknya, kalau gambar buruk tersebut dicerna hati, bahkan disimpan hati, maka akan muncul reaksi hati yang negatif. Sedangkan, kalau yang dilihat mata itu gambar baik, maka setelah dicerna akan muncul reaksi hati yang positif. Jagalah hati, jangan kau nodai. Memang hati itu begitu mudah dinodai dan dikotori, sehingga mata hati dan kata hati menjadi buram, tidak jernih

Hati adalah organ tubuh yang selalu dinamis, selalu bergetar. Namun masih ada kontroversi, apakah kalau bicara qolbu itu identik dengan hati atau jantung. Kalau pikiran itu adalah kerjanya otak, lantas apakah perasaan itu kerjanya hati (liver) atau jantung.

ketika datang waktu pagi, yang timbul dalam suara hatinya ialah berhubungan dengan pekerjaan yang hendak dikerjakan buat dirinya. Hatinya disibukkan oleh rencana yang akan dikerjakan buat dirinya, sehingga membuat lalai pada kekuasaan Allah SWT. Hal tersebut menyebabkan akan kelelahannya, dan mengurangi akan keberhasilan rencana yang dikehendakinya.

Sedangkan orang yang berakal sehat, pertama kali getaran yang timbul dalam hatinya adalah terkait dengan pertanyaan, apa yang diperbuat Allah terhadap diriku. Pandangannya selalu terfokus pada Allah SWT. Harapan dan cita-citanya digantungkan kepada Allah, dia ridha dengan ketentuan takdir Allah dengan tetap beramal dan terus semakin meningkatkannya, sehingga hatinya menjadi tenang dan damai. Demikian Syekh Ahmad, membuat perbandingan antara getar hati orang yang lalai dengan getar hati orang yang berakal sehat.

Arena kehidupan begitu melelahkan, banyak rintangan yang dihadapi, mulai rintangan yang kecil, ringan, sederhana, sampai rintangan yang besar, berat dan rumit. Tetapi bagi orang yang hatinya dipenuhi getar-getar kesadaran akan keberadaan Allah, maka rintangan apapun selalu dipikiri, dirasai dan disikapi dengan penuh kebahagian.

Baginya semua perkara itu datang dari Allah, maka tak ada kesempatan dan ruang untuk berkeluh kesah atau berduka cita. Semuanya menggembirakan, semuanya begitu menyejukkan, karena semuanya dikembalikan kepada Tuhan yang maha kuasa. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas pertolongan Allah, sudah selayaknya semua pikir, semua rasa dan semua tindak dipasrahkan kepada Allah.

Menurut Umar bin Abdul Aziz, “Tidak ada yang membahagiakan aku di setiap pagi, kecuali kerelaan menjalankan tugas yang telah ditetapkan sebagai takdir Allah SWT”. Ada aturan Allah yang berkaitan dengan waktu, misalnya waktu shubuh apa saja yang harus dikerjakan, waktu siang sampai petang, waktu malam dan dipernghujung malam. Ada waktu-waktu tertentu yang diistimewakan Allah, sepertiga malam menjelang shubuh, hari Jumat, bulan Ramadhan, dan sebagainya. Pada saat-saat itu sudah semestinya getar hati semakin kencang sehingga makin dekat dengan Allah. Tetapi bukan berarti di luar waktu-waktu itu kita bisa lalai dari upaya mendekatiNya.

Allah begitu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher sendiri. Tetapi manusia seringkali merasa jauh, menjauhi bahkan tidak peduli dengan Sang Pencipta. Getar hati sebenarnya begitu sensitif untuk merasakan kehadiranNya, setiap manusia dianugerahi kepekaan untuk mendeteksi kebesaran Tuhan. Dengan adanya mata maka sebagian yang diciptakanNya bisa dilihat dengan jelas, apakah itu sesama manusia, hewan, tumbuhan, benda-benda mati, benda angkasa dan yang lainnya.

Adanya telinga memungkinkan setiap manusia dapat mendengar ayat-ayat ALLAH dalam kitab suci atau di alam semesta seperti suara burung, suara debur ombak di pantai, dan sebagainya. Begitu pula adanya organ lainnya menyebabkan getar hati untuk memahami Sang Pencipta bisa lebih mudah. Eksploitasi dan eksplorasi ‘pencarian Tuhan’ bisa lebih leluasa, apalagi dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sudah semestinya berujung pada peningkatan kesadaran akan ke-Maha Besar-an ALLAH . Allahu Akbar.

==========================================================

Macam-macam Hati

Hati di lihat dari sudut hidup dan matinya terbagi menjadi 3 macam, yaitu:

1. Hati yang Sehat / Selamat (قَلْبٌ صَحِيْحٌ سَلِيْمٌ).

Qulbun salim yang dapat membawa keselamatan di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala adalah:

{الَّذِيْ قَدْ سَلِمَ مِنْ كُلِّ شَهْوَةٍ تُخَالِفُ أَمْرَ اللهِ وَ مِنْ كُلِّ شُبْهَةٍ تُعَارِضُ خَبَرَهُ}

“Hati yang selamat dari setiap syahwat yang menyalahi perintah dan larangan Alloh serta selamat dari setiap syubhat yang bertentangan dengan berita-berita-Nya”. (lihat Ighotsul Lahfan: 1/12)

Keadaannya selamat dari ubudiyah (peribadatan) kepada selain-Nya dan selamat bertahkim kepada selain Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam, serta selamat dalam mencintai Alloh subhanahu wa ta’ala di iringi tahkim kepada-Nya, tawakkal dan dengan menjauhkan diri dari kemurkaan-Nya.

2. Hati yang Mati. (قَلْبٌ مَيْتٌ)

Hati yang mati adalah hati yang tidak memiliki kehidupan yakni tidak mengenal Alloh subhanahu wa ta’ala, tidak beribadah kepadanya sesuai dengan perintahnya. Dia selalu tunduk pada syahwat dan keinginannya, sekalipun mengandung kemurkaan dan kebencian Robbnya. Ketika ia berhasil dengan syahwat dan keinginannya, ia pun tidak peduli apakah Robbnya ridho atau murka. Jika ia mencintai, ia cinta karena hawa nafsunya. Jika ia benci, maka ia pun benci karena hawa nafsunya. Jika ia memberi, maka ia memberi karena hawa nafsunya dan seterusnya. Hawa nafsu adalah Imamnya, syahwat adalah komandonya, kejahilan adalah sopirnya dan kelalaian adalah kendaraannya.

3. Hati yang Berpenyakit. (قَلْبٌ مَرِيْضٌ)

Penyakit hati adalah bentuk kerusakan yang terjadi di dalam hati yang dapat merusak tashowwur (wawasan keilmuan) dan irodah (keinginan)nya. Tashowwurnya dirusak oleh syubhat yang diberikan, sehingga ia tidak mampu melihat kebenaran, atau ia melihatnya tidak sesuai dengan hakekatnya. Irodahnya pun dirusak dengan cara membenci kebenaran yang membawa manfa’at dan kebathilan yang membawa mudhorot.

Dua macam penyakit yang merupakan biang dari segala macam penyakit hati lainnya sekaligus menjadi sumber dari terjadinya berbagai bentuk pelanggaran dan kemaksiatan seorang hamba dihadapan Alloh subhanahu wa ta’ala, pertama adalah penyakit syubhat dan syak (keraguan), keduanya adalah penyakit syahwat dan ghoy (penyimpangan ilmu).

Tiga macam hati tersebut telah dijelaskan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala dalam firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّى أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنْسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آَيَاتِهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (52) لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ (53) وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آَمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (54)

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rosulpun dan tidak (pula) seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaithonpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Alloh menghilangkan apa yang di masukkan oleh syaithon itu, dan Alloh menguatkan ayat-ayat- nya. Dan Alloh Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh syaithon itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya. Dan sesungguhnya orang-orang yang dzolim itu, benar-benar dalam permusuhan yang sangat. Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur’an itulah yang hak (kebenaran) dari Robb-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Alloh adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus”. (QS. Al Hajj [22]: 52-54)

16 Oktober 2010 - Posted by | kata hikmah, Uncategorized | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: