nurrokhim's blog

Ambillah hikmah walau dari mana asalnya

KU TERPERDAYA OLEH SANG WAKTU

WAKTU adalah zat yang berada di luar kekuasaan kita. Waktu ada bukan kita melainkan bersama kita. Maka kita ada di sini, di dunia ini, dalam suasana yang terus berubah karena pergiliran waktu. Ia terus berjalan dari detik ke detik menjadi menit, dari menit ke menit menjadi jam, dari jam ke jam menjadi pekan, dari pekan ke pekan menjadi bulan, dari bulan ke bulan menjadi tahun dan begitu seterusnya.

Kita berada di sini dalam perputaran itu, sebagai sebuah upaya untuk mengikhlaskan sebuah kenyataan bahwa betapa kecil kuasa kita sebagai manusia. Pada saat yang sama, dengan rendah hati kita menyadari sungguh-sungguh betapa maha dahsyatnya kuasa Allah di atas segala yang kita alami dan rasakan bahkan yang kita rencanakan.

Namun demikian, sekalipun waktu, rentang waktu dan proses yang bergulir di dalamnya berada di luar jangkauan kita, selalu ada keharusan bagi kita untuk memberinya makna. Saat ini, hari ini aku menghadirkan beberapa renungan perjalanan ke hadapan kehidupan dan juga siapapun yang tulus menerima dan membaca renungan ini, sebagai bagian dari upayaku untuk memberi makna bagi waktu dan kehidupan. Harapannya, dengan demikian kita mampu memberi makna bagi waktu dan kehidupan yang tak lelah menemani kita.

Bagiku, kerja pemberian makna ini sama sekali bukan ikhtiar untuk menunjukkan kegagahan dan kesombongan diri, melainkan untuk memikul amanah Allah secara rendah hati sebagai pengelola dan pemimpin bumi. Karena itu, aku sangat bergembira diberi kesempatan oleh Allah untuk memberi makna bagi waktu dan kehidupanku ini. Aku melakukan ini selain sebagai renungan juga sebagai provokasi kepada siapapun untuk terus berkarya dan berkarya.

Menulis adalah salah satu cara terbaik bagiku untuk merekam semua yang telah lewat dan yang akan aku tunaikan. Aku ingin menjadi manusia yang mampu memberi warna bagi kehidupan ini dengan warna yang indah. Aku mencoba memberi pesan bahwa menulis di atas air mata adalah kehidupan itu sendiri. Bahkan menulis dalam keadaan sedih dan ditimpa derita adalah kehidupan itu sendiri. Tak ada yang sia-sia di sini, yang ada hanyalah keindahan kehidupan.

Di atas segalanya, sebagai manusia, aku mesti mampu membuat sejarah hidupku sendiri. Seperti kata Paulo Fraire, “Seorang manusia adalah yang bisa menentukan sejarahnya sendiri.” Maka sebagai manusia, aku mesti membuktikan sejarah hidupku sendiri. Karena akulah yang merasakannya, maka aku jugalah yang menuliskannya. Aku tak ingin hidup dalam kungkungan kemanusiaan seperti orang-orang yang mudah dimobilisasi, yang mudah diperalat, yang gampang disulut provokasi, yang suka merasa besar di atas kekerdilan mereka di hadapan Sang Kuasa. Kalaupun aku seperti itu, renungan ini adalah upaya mengikis sekaligus membunuh sikap angkuh dan sombongku itu. Baik di hadapan Allah maupun di hadapan ciptaan-Nya.

Aku ingin agar pada masa hidup ini, pada sisa umurku di dunia ini, aku mampu meneguhkan komitmenku untuk membongkar segala kondisi stagnasi dan kerapuhan dalam mewarnai kehidupanku. Bagiku, ini adalah upaya memerdekakan diri dari kenyataan yang selalu menjajah, termasuk rasa malas yang kadang berlebihan menjajah keterbatasanku. Pemerdekaan inilah kelak yang akan menjadi modal besar untuk memerdekakan kemanusiaan sebagai umat maupun sebagai bangsa dan peradaban.

Sederhananya, aku ingin bisa memulai hari ini hingga ke masa-masa yang akan datang, aku dan siapapun semakin giat untuk merubah karakter diri yang stagnasi menjadi jiwa yang terus bergerak, melakukan aktivitas yang membuat waktu dan seluruh sisi kehidupanku semakin bermakna.

Tentu, ini bukan kerja sebentar, mudah dan murah. Karena sebetulnya di depan mataku, di hadapan kehidupanku masih banyak tersedia tirani yang membumi, musuh utama kemanusiaan yang terus menjajah kehidupan manusia hingga menyentuh jiwa-jiwa mereka. Ia terlalu istimewa kalau dibiarkan terus merasuk ke dalam sum-sum kehidiupan manusia. Ia adalah sebuah kekuatan yang selalu mendominasi bahkan menghegemoni kehidupan manusia. Ia adalah kemalasan.

Bagiku, menulis, walau sederhana seperti yang terdapat dalam karya ini adalah sebuah upaya untuk menempatkan diri sebagai bagian dari pelaku dan pengendali kehidupan. Masa depan jangan lagi dititipkan kepada orang lain, karena aku sendiri lebih bertanggung jawab untuk menata diriku, sehingga aku mampu meniti masa depan. Aku tak ingin orang lain mengatur aku tanpa argumentasi yang kuat dan keutuhan rasionalisasi. Karena akulah yang mesti mengurus dan menata kehidupanku. Tentu di atas segalanya, Allah adalah tempatku menyerahkan segalanya. Aku menyerah kepada kuasa-Nya yang tak tertandingi di atas kelemahan dan keterbatasanku.

Aku meyakini bahwa gerbong waktu tidak akan pernah berhenti, ia terus berjalan mengangkut berbagai macam muatan. Pilihannya tunggal, aku harus masuk. Dan di sana—suka atau tidak suka—sudah menunggu beragam masalah. Begitulah kehidupan. Apapun ujian, tantangan dan dinamikanya, aku mesti terlibat di dalamnya.

Bagiku, dalam keseharian manusia, masalah hidup tak ada ubahnya laksana ombak yang menebas pantai, tak pernah berhenti sesaatpun sejak semula jadi. Jangankan berhenti, jedapun tidak.

Adakalanya ombak itu kecil, ketika itu ia menjadi “ayunan” anak nelayan, tapi tempo-tempo ombak itu besar dan berubah menjadi monster. Begitulah kehidupan. Begitulah hidup dan dinamika di tanah rantauan. Berkejar-kejaran, timbul-tenggelam, naik-turun, ke tengah ke tepi.Ada daur alam yang tak pernah berubah, selalu berulang walau tak pernah sama. Dan ombak itu selalu saja bergulung-gulung berlarian menuju pantai, menerpa, membelai, kadang menerjang, bersurai demikian saja, lalu sepi sesaat, tapi kemudian datang lagi dan datang lagi.

Setiap orang tentu punya alur kehidupannya masing-masing.

kehidupan dunia dengan berbagai macam dinamikanya menjadi bagian yang melekat dalam diri manusia itu, sehingga kadang merekapun kadang ikut terhanyut. Ke mana ombak pergi, ke sanalah manusia menuju. Pikiran, kepribadian dan emosi juga turut terlibat secara penuh. Begitu juga aku. Apa yang mesti aku lakukan adalah tetap menitinya, alias tentu mengambil jarak secara tepat, tanpa harus selalu mengikuti arus dunia.

Mengapa ombak? Lagi-lagi, karena ombak adalah aliran air yang dipengaruhi oleh angin. Ombak mengarahkan ke daratan, kalau aku di pinggir pantai. Sebaliknya, ombak mengarah ke perahu atau kehidupan yang aku tumpangi, ketika aku sedang berlayar dan hidup. Ombak dalam kontek ini adalah hidup itu sendiri, selalu bergolak dan bergejolak, sering berubah haluan, tetapi ia adalah petanda kehidupan. Ketika ombak tidak lagi ombak, maka kehidupan menjadi mati. Semua manusia tentu melalui dan merasakan dan melewati suasana-suasana itu. Begitu jugalah perjalanan dan pengalamanku di tanah rantauan.

Waktu adalah kawan sekaligus musuh sekaligus musuh terbesar manusia. Dia datang tanpa salam dan pergi tanpa basa-basi. Waktu tidak pernah mau berkompromi dengan manusia, dan tidak pernah akan tertaklukkan. Hari demi hari, pekan demi pekan, bahkan tahun demi tahun, terus saja berlalu. Kelahiran dan kematian kemudian lalu lalang, memperkokoh keperkasaan sang waktu.

Di atas itu semua, Allah menyediakan penyelaras yang membuatnya terarah. Hal ini bisa aku pahami dari sang Nabi ketika mendapatkan amanah risalah-Nya. Lelaki buta huruf itu tiba-tiba disuruh (baca: dipaksa) membaca. Bahkan sampai tiga kali. Dan pecahlah peristiwa itu dalam sejarah manusia; lelaki buta huruf itu lantas diangkat menjadi nabi, bahkan penutup mata rantai kenabian hingga akhir zaman.

Begitulah perintah membaca mengawali pengangkatan Muhammad menjadi Nabi. Kelak, setelah menunaikan tugas kenabian itu selama 23 tahun, atau tepatnya 22 tahun 2 bulan 22 hari, Allah Swt. menutup perjuangan beliau dengan satu ayat tentang kesempurnaan: ”Hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu, dan Ku-sempurnakan pula nikmat-Ku untukmu dan Aku ridho Islam sebagai agamamu.”

Artinya, di sini; di kehidupan ini aku dituntut untuk terus membaca dan membaca. Membaca waktu, membaca bulan, membaca matahari, membaca ombak, membaca angin, membaca karang di laut, membaca tantangan dan dinamika, membaca peluang dan kesempatan dan membaca kehidupan itu sendiri. Alam ikut terlibat membantu dengan memberi manusia banyak isyarat.

Hanya saja kebanyakan manusia, terutama aku, seringkali terlambat menyadari, kecerdasaanku sering terperosok di sudut dan terabaikan. Kata orang bijak, “Kita kadang baru teringat pedang yang tersarung di pinggang ketika perang sudah usai, atau kita sudah berada di luar gelanggang jadi pecundang.”

Di sini sebetulnya tak ada kerumitan. Yang ada hanyalah suasana baru dari kehidupan biasanya. Asal satu syarat: aku tetap menitinya dengan nilai-nilai wahyu-Nya. Mengapa? Karena Muhammad pun berubah total.

Bukan saja perilakunya tapi juga cita-cita kehidupannya. Walau mesti diakui bahwa ketika perintah itu datang ia bertemu dengan manusia yang punya watak manusia dengan dunianya sendiri. Risalah itu berjumpa dengan manusia yang tentu punya nalarnya sendiri. Namun, beginilah faktanya. Wahyu yang diawali dengan perintah membaca itu seiya-sejalan dengan fitrah kemanusiaan sang Nabi. Ini juga sebagai bukti nyata bahwa wahyu itu punya ruangnya dalam relung kehidupan manusia.

Di sini yang diperlukan adalah kemampuan mengendalikan. Mengendalikan tidak selalu bermakna menyetir. Sama sekali tidak. Yang utama adalah kemampuan menerjemahkan pesan wahyu itu dalam ruang waktu yang mungkin rumit. Artinya, meski hidupku terkungkung dalam kekuasaan waktu dan kehidupan, aku harus tetap melakukan sesuatu untuk membuat waktu agar tidak “semena-mena” memperpendek sebuah kehidupan dan memumpus sebuah harapan. Harus ada upaya pemanfaatan agar aku dapat “memperpanjang umurku”.

Bagiku, sesuatu yang dapat memperpanjang umur adalah karya. Sebuah karya lahir dari proses pemikiran, pemahaman, dan pencarian makna. Dengan karya itu sepasang manusia yang telah pergi tidak akan pupus, tapi terus disebut, entah dengan pujian entah dengan makian. Itulah kalimat penjelas dari apa yang aku sebut sebagai penuntut ilmu, sebagai pernatau.

Aku sangat percaya bahwa di saat penaku belum sanggup menulis nama dan semua kebaikan mereka, maka pena Allah Yang Maha Kuasa sangat laten untuk menuliskan semuanya.

Jujur, semuanya sangat bermanfaat untukku, yang hingga kini masih merangkai jalan titik temu antara aku dengan ilmu yang aku kais hingga kini. Aku meniti kehidupan di tanah rantauan.

Ya, aku masih mencari, meretas jalan untuk masa depan. Sementara waktu, nantikan aku dengan berdo’a di hadapan kerahiban-Nya, semoga aku segera kembali untuk kampungku, untuk negeriku (Indonesia) dan untuk agamaku (Islam).

Akhirnya, di atas dan dengan air mata, aku akhiri pengantar ini dengan harapan semoga karya ini menjadi salah satu amal sholeh terbaik yang akan menjadi saksi kesungguhanku untuk menghamba kepada-Nya, sekaligus untuk membumikan nilai-nilai kebenaran agama-Nya. Selamat membaca, mengambil hikmah dan pelajaran!

14 Oktober 2010 - Posted by | hikmah, kehidupan, motivasi, renungan, Uncategorized | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: