nurrokhim's blog

Ambillah hikmah walau dari mana asalnya

Remote

dalam kehidupan sehari-hari, remote, tak pernah lepas dari tangan kita. entah itu remote televisi, remote radio, remote DVD dll. kegunaan dari remote itu sendiri adalah untuk mengendalikan acara-acara sesuai dengan keinginan kita. misalnya, saat menonton televisi, jika kita sedang tidak ingin melihat iklan, maka remote akan memindahkan saluran televisi sesuai dengan keinginan kita. begitu juga dengan radio, jika kita bosan mendengarkan siaran yang itu-itu saja, kita pun akan segera meraih remote untuk segera berpindah saluran.

dengan remote, kita tidak perlu beranjak dari tempat kita duduk atau dari hal yang sedang kita lakukan. cukup memencet tombol remote, maka acara yang kita inginkan langsung muncul di hadapan kita.
begitulah remote telah begitu menguasai kendali kita saat kita ingin menonton ataupun melakukan hal yang lainnya.

apakah yang terjadi saat remote menghilang? kita akan sibuk mencarinya, kita akan sibuk menggerutu karena harus repot-repot bolak balik memencet langsung ke pesawat televisi ataupun radio. tak jarang, kita juga menggerutu karena hampir semua program ada di remote, baik untuk membesarkan volume, mengubah bahasa, memunculkan teks dll….

dan, bagaimana dengan remote kehidupan……

remote, atau pengontrol diri saat kita bosan dengan kejadian yang itu-itu saja

saat kita ingin mengganti dengan suasana yang baru
adakah remote kehidupan itu….

remote atau pengendali adalah sebuah alat kecil yang sering tidak kita anggap, namun ketika menghilang, kita akan berusaha mencarinya, bahkan membeli yang baru agar kita tetap dapat mengendalikan saluran sesuai dengan yang kita inginkan

bagaimana dengan remote kehidupan, adakah “alat” yang dapat mengendalikan diri kita untuk berpindah “saluran”, ataupun mengganti suasana….

remote itu, kemungkinan ada dalam diri kita, remote itu adalah hati kita

“ketika manisnya hawa nafsu menguasai kalbu, itulah penyakit hati nan tlah membatu…”

hati yang bersih akan meringankan langkah kita dalam menapaki hidup ini

jika hati kita keruh dan kotor, maka tidak mungkin kita akan dapat mengenal Allah dan bersyukur pada-Nya

jika hati kita bersih, maka akan dengan mudah kita menemukan kebenaran, dan akan dengan mudah kita mendapat pantulan cahaya Ilahi

jika di permulaan kita sudah menjaga hati dari debu yang menutupinya, maka jalan menuju ALlah akan terasa lapang

pada hati lah kita mengikrarkan kalimat tauhid sebenar-benarnya,

pada hati lah kita azamkan kalimat tauhid agar kita terus berjalan di jalan-Nya

sahabat,

oleh karena itu, kalimat-kalimat yang sering didengungkan agar kita menjaga hati adalah benar adanya. dalam menjaga hati, kita akan terlindungi dari perbuatan-perbuatan tercela dan perbuatan-perbuatan yang kurang pantas menurut Allah.

dengan menjaga hati, kita akan terus menerus berusaha untuk berbuat baik dan mendekatkan diri pada-Nya

sahabat,

siapakah yang dapat mengungkap kegaiban hati jika tidak Allah swt….

kita tidak tau apa yang ada dalam hati sahabat kita, begitu pula sebaliknya. karena dalam hati, tersimpan kegaiban. namun sesungguhnya keadaan hati kita, tanpa kita sadari, akan terwujud dalam tingkah laku kita. sehingga tingkah laku itulah yang tampak dan dilihat oleh banyak orang. manusia yang hatinya halus, maka tingkah lakunya pun akan mencerminkan kelembutan. manusia yang hatinya culas, maka tingkah lakunya pun cenderung tidak menyenangkan.

sahabat,

kita tidak dapat menyembunyikan keadaan hati, maka, bila kita mampu membentuk hati menjadi bersih, pikiran kita akan bersih, setiap langkah yang kita jejakkan di muka bumi ini, insyaAllah menjadi baik.

seperti remote yang mampu mengendalikan alat-alat elektronik, maka, hati yang bersihlah yang akan mengedalikan sikap kita, penampilan kita, dalam mengarungi hidup ini. bedanya hanyalah hati tidak tidak dapat memindahkan keadaan yang tidak kita sukai ke keadaan yang kita sukai, namun hati yang yang bersih akan membuat kita menerima hal-hal yang tidak kita sukai dengan lapang dada….

“barangsiapa yang menempatkan hatinya di sisi Allah, niscaya akan tenanglah hatinya. barangsiapa yang melepaskannya kepada manusai, niscaya akan goyahlah hatinya” Dr Aidh bin Abdullah Al Qarni.

)I(ummi Adam)I(

11 Oktober 2010 - Posted by | al-kisah, kehidupan, motivasi, Uncategorized | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: