nurrokhim's blog

Ambillah hikmah walau dari mana asalnya

bersyukurlah

Sahabat, sedang apakah engkau saat ini…..

Sahabat, aku membayangkan engkau saat ini tengah bercengkrama dengan teman-temanmu, atau dengan keluargamu, berbicara tentang banyak hal, tertawa bersama, makan bersama, menikmati setiap detik dengan orang-orang yang engkau sayangi, betapa indahnya…..

Sahabat, aku membayangkan, engkau saat ini tengah menikmati candamu, bicaramu, hentakan tangan dan kakimu, betapa nikmatnya….

Sahabat, bersyukurlah atas apa yang engkau alami saat ini dan kemarin, betapa semua ini terasa begitu indah saat kita sehat. Saat lidah senantiasa mengecap berbagai makanan, saat mulut mampu berbicara sesuka kita, saat tangan ini bergerak sekehendak kita, saat kaki melangkah kemanapun kita mau.

Ya, betapa nikmat sehat yang tak terkira.

Sahabat, pernahkah kita membayangkan, apa yang terjadi ketika semua nikmat itu di cabut, ketika lidah tak mampu mengecap makanan, ketika mulut tak mampu berkata-kata, ketika tangan tak sanggup digerakkan, ketika kaki tak lagi lincah bergerak….. saat itu kita hanya mampu berbaring dan menatap sekeliling

Menatap orang-orang yang melihat kita dengan iba. Kita terbaring lemah dengan nafas tersengal, sementara mereka hanya bisa memandang kita dan mendoakan kita. Mulut kita hanya bisa menerima makanan tertentu yang terasa begitu pahit di lidah, tangan kita hanya dapat bergerak lemah, kaki kita tak mampu bergerak, hanya mampu bergeser.

Saat itu, kita hanya mampu menatap orang-orang yang kita sayangi, kita tak mampu untuk menggenggam tangan mereka, apalagi memeluk mereka. Saat itu, mulut kita tak mampu mengungkapkan betapa kita mencintai saudara kita, keluarga kita, sahabat-sahabat kita.

Sahabat, saat itu, apakah pernah terlintas di benak kita

Betapa nikmat sehat memang tiada tara, hargailah setiap detik saat engkau sehat, setiap detik saat nafas belum ditambah dengan oksigen, setiap detik saat tangan masih bisa bergerak bebas, tidak terbelenggu dengan infus yang menusuk tulang, setiap detik saat kaki masih bebas melangkah, tidak terbelenggu dengan gips yang menyesakkan tulang.

Hargailah setiap detikmu, bersyukurlah di setiap helaan nafasmu………

Bahwa Allah itu dekat, itu adalah kenyataan, bahwa kematian sedang menanti, itu sebuah kepastian yang tak mungkin dihindari

maka, bersyukurlah……………….

3 Oktober 2010 - Posted by | renungan, sahabat, syukur, Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: