nurrokhim's blog

Ambillah hikmah walau dari mana asalnya

Mandi Junub Kesiangan, Puasanya Sah atau Tidak?

Umat Islam dihalalkan melakukan hubungan suami istri pada malam hari bulan puasa. Seperti yang dijelaskan dalam Alquran Surah Albaqarah ayat 187: “Dihalalkan bagi kamu mencampuri istri- istrimu pada malam hari bulan puasa…”

Drs H Fathurrahman Azhari Mhi mengatakan, ayat ini menunjukkan hukum bolehnya bercampur suami istri di malam hari, yang berarti dilarangnya di siang hari. Lantas, apakah sah puasa seorang muslim, apabila belum mandi wajib sampai siang?

“Jika orang bercampur suami istri di akhir malam dan selesai menjelang terbit fajar, namun tidak sempat mandi, puasanya tetap sah. Puasa tidak mewajibkan orang junub untuk mandi. Namun orang yang junub tidak sah salat,” jelas Fathurrahman.

Hadis Rasulullah SAW: Telah menceritakan kepada kami Abdullah yang berkata telah bercerita kepadaku, Ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Abd al-Razaaq yang berkata telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhriy dari Abu Bakar bin Abd al-Rahman bin Al Harits bin Hisyam yang berkata aku mendengar Abu Hurairah mengatakan Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang menemui subuh dalam keadaan junub, maka janganlah ia berpuasa”.

Maka aku dan ayahku berangkat menemui Ummu Salamah dan Aisyah, kami menanyakan kepada keduanya tentang masalah itu. Mereka mengabarkan bahwa Rasulullah SAW pernah ketika subuh dalam keadaan junub bukan karena mimpi, kemudian Beliau tetap berpuasa. Kami menemui Abu Hurairah dan Ayahku menceritakan kepadanya, Abu Hurairah menjadi merah wajahnya kemudian berkata “Hal itu diceritakan kepadaku dari Fadhl bin `Abbaas dan mereka berdua [Aisyah dan Ummu Salamah] lebih mengetahui” [Musnad Ahmad 6/308 no 26672, Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih sesuai dengan syarat Bukhari Muslim”]

Oleh karena itu dibolehkan bagi seseorang yang tengah berpuasa untuk mandi junub setelah masuk waktu fajar. Tetapi orang yang mandi pada pukul 08.00 Wita atau pukul 12.00 Wita, berarti meninggalkan salat subuh. Ini dosa besar.

Maka jangan sampai hanya karena malu kepada orang lain mengakibatkan dirinya menunda-nunda salat subuh. Jadi yang terbaik adalah segera mandi junub dan menunaikan salat subuh di awal waktunya.(*)

Editor : zid
Sumber : Tribunnews

23 Desember 2011 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Jangan Seperti Lalat ! ! !

Kata-kata ini saya dapat dari saudara saya ketika berkunjung ke Magelang. Padahal hanya 3 jam beliau ngobrol bersama kami, tapi beliau lebih memilih menghabiskan kurang lebih 2 jam untuk menasihati saya. Mungkin pikir beliau, masa seperti saya adalah masa yang rawan kecelakaan.

Dari perkataannya yang panjang lebar, saya rasa ada satu kalimat yang perlu saya bagi untuk anda pembaca semua. “Jangan seperti lalat..!” Itu yang menarik.

Memang, saya lebih senang membaca cerita perjuangan seseorang dari pada harus membaca buku yang banyak mengungkap teori dan mengemukakannya panjang lebar, apalagi cuma teori yang membual dan menjenuhkan. Seperti halnya yang saya dengar dari pakde saya ini, beliau menceritakan perjuangannya mencapai pelita nan cemerlang.

Singkat cerita, beliau adalah alumnus pesantren tapi berhasil menyandang gelar Dokter. Perjuangan demi perjuangan beliau tempuh untuk mencapai impiannya. Beliau berkisah dahulu pernah memimpikan menjadi seorang penemu. Ya, seorang penemu. Layaknya Thomas Alfa Edison, atau Michael Faraday atau yang lainnya. Namun setelah sekian lama berpikir beliau hanyalah menemui kebuntuan. beliau bahkan berpikir, sampai peniti pun sudah ada yang menemukan. Lalu apa yang akan ditemukannya?.

Setelah memimpikan sesuatu yang beliau rasa kurang pas, beliau memutuskan untuk banting setir. Menjadi seorang Dokter sekaligus Mubaligh lebih dirasa cocok. Namun apa yang menjadikan seorang cerdas tersebut mundur dari impiannya?.

“Jangan seperti lalat..!” Itulah jawabannya.

Seekor lalat yang berada dalam sebuah rumah akan mencoba keluar, namun tahukah anda apa yang ia tempuh untuk keluar. Ia akan terbang menuju cahaya yang ada didepannya, ia menuju jendela yang berkaca. Duaar..! Sudah sepantasnya ia akan menabrak kaca. Namun lalat itu justru mundur mengambil ancang-ancang untuk kembali berusaha menembus kaca. Dan, Duaar..! sekali lagi ia gagal. Kemudian ia berusaha lagi, kemudian gagal lagi. Dan ia terus berusaha, sampai waktunya dihabiskan untuk usahanya keluar dari rumah melalui jendela berkaca tersebut dan tak pernah kunjung berhasil.

Apa yang anda pikirkan. Apakah dia hebat, sehingga mau terus berusaha sekuat tenaga tanpa mengenal putus asa?. Jika jawaban anda begitu, anda tak lebih dari seekor lalat yang malang.

Jika seekor lalat tersebut dapat berpikir, tentunya ia akan menengok ke arah fentilasi udara atau pintu rumah yang terbuka, karena itu justru lebih memudahkannya mewujudkan impian. Jika ia lebih memilih itu, maka sejak awal ia akan menuju impiannya yaitu sebuah kebebasan yang berada diluar rumah.

Betapa bodohnya kita jika menggantungkan cita-cita yang salah. Mengacalah pada lalat, seharusnya anda dapat memahami. Pikirkanlah apa yang akan anda perbuat. Pikirkan apakah cita-citamu memungkinkan untuk anda tempuh. Berikan rambu-rambu di setiap impain anda, karena di setiap jalan pastilah ada sebuah daerah yang rawan kecelakaan.

‘Jangan Seperti Lalat’. Itu akan membimbing anda, jika anda sudah menempuh jalan yang salah, jangan takut untuk mundur. Jika mundur itu lebih baik, mengapa tidak?. Akankah anda mengorbankan waktu dan harta dengan anda sia-sia?. Dan jika anda rasa belum saatnya untuk maju, maka janganlah maju. Karena majunya anda justru akan menyiksa anda. Lebih baik untuk anda mempersiapkan diri menyongsong masa depan, dan maju ketika peluang itu memungkinkan. Kesalahan orang di zaman ini adalah gengsi. Ketahuilah, sesungguhnya perasaan gengsi yang anda pelihara itu akan membinasakan anda. Semoga kita tetap berada dibawah lindungan-Nya. Amien.

* Tulisan akhi fillah di Grabag, Magelang. Anak kiai, lulusan pondok ngruki, dan sekarang mau belajar ke Arab Saudi. Semoga Allah senantiasa menjaganya, memudahkan urusannya, memberkahi di mana saja dia berada.

Diunduh dari http://rafiqjauhary.wordpress.com/
(PurWD/Iqdam/rafiqjauhary)

14 April 2011 Posted by | Uncategorized | | Tinggalkan komentar

Sayyidina Utsman bin ‘Affan r.a.

Dalam kitab Al-Thabaqat, Taj al-Subki menceritakan bahwa ada seorang laki-laki bertamu kepada ‘Utsman. Laki-laki tersebut baru saja bertemu dengan seorang perempuan di tengah jalan, lalu ia menghayalkannya.

Utsman berkata kepada laki-laki itu: “Aku melihat ada bekas zina di matamu.”

Laki-laki itu bertanya: “Apakah wahyu masih diturunkan setelah Rasulullah Saw wafat?”

Utsman menjawab: “Tidak, ini adalah firasat seorang mukmin.”

Utsman r.a. mengatakan hal tersebut untuk mendidik dan menegur laki-laki itu agar tidak mengulangi apa yang telah dilakukannya.

Selanjutnya Taj al-Subki menjelaskan bahwa bila seseorang hatinya jernih, maka ia akan melihat dengan nur Allah, sehingga ia bisa mengetahui apakah yang dilihatnya itu kotor atau bersih. Maqam orang-orang seperti itu berbeda-beda. Ada yang mengetahui bahwa yang dilihatnya itu kotor tetapi ia tidak mengetahui sebabnya. Ada yang maqamnya lebih tinggi karena mengetahui sebab kotornya, seperti ‘Utsman r.a. Ketika ada seorang laki-laki datang kepadanya, `Utsman dapat melihat bahwa hati orang itu kotor dan mengetahui sebabnya yakni karena menghayalkan seorang perempuan.

Artinya, setiap maksiat itu kotor, dan menimbulkan noda hitam di hati sesuai kadar kemaksiatannya sehingga membuatnya kotor, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah:

“Sekali-kali tidak demikian, sesungguhnya apa yang mereka kerjakan itu mengotori hati mereka (QS Al-Muthaffifin [83]: 14).

Semakin lama, kemaksiatan yang dilakukan membuat hati semakin kotor dan ternoda, sehingga membuat hati menjadi gelap dan menutup pintu-pintu cahaya, lalu hati menjadi mati, dan tidak ada jalan lagi untuk bertobat, seperti dinyatakan dalam firman Nya:

Dan hati mereka telah dikunci mati, sehingga mereka tidak mengetahui kebahagiaan beriman dan berjihad. (QS Al Taubah [9]: 87)

Sekecil apa pun kemaksiatan akan membuat hati kotor sesuai kadar kemaksiatan itu. Kotoran itu bisa dibersihkan dengan memohon ampun (istighfar) atau perbuatan-perbuatan lain yang dapat menghilangkannya. Hal tersebut hanya diketahui oleh orang yang memiliki mata batin yang tajam seperti ‘Utsman bin `Affan, sehingga ia bisa mengetahui kotoran hati meskipun kecil, karena menghayalkan seorang perempuan merupakan dosa yang paling ringan, `Utsman dapat melihat kotoran hati itu dan mengetahui sebabnya. Ini adalah maqam paling tinggi di antara maqam-maqam lainnya. Apabila dosa kecil ditambah dosa kecil lainnya, maka akan bertambah pula kekotoran hatinya, dan apabila dosa itu semakin banyak maka akan membuat hatinya gelap. Orang yang memiliki mata hati akan mampu melihat hal ini. Apabila kita bertemu dengan orang yang penuh dosa sampai gelap hatinya, tetapi kita tidak mampu mengetahui hal tersebut, berarti dalam hati kita masih ada penghalang yang membuat kita tidak mampu melihat hal tersebut, karena orang yang mata hatinya jernih dan tajam pasti akan mampu melihat dosa-dosa orang tersebut.

Ibnu `Umar r.a. menceritakan bahwa Jahjah al-Ghifari mendekati ‘Utsman r.a. yang sedang berada di atas mimbar. Jahjah merebut tongkat ‘Utsman, lalu mematahkannya. Belum lewat setahun, Allah menimpakan penyakit yang menggerogoti tangan Jahjah, hingga merenggut kematiannya. (Riwayat Al-Barudi dan Ibnu Sakan)

Dalam riwayat lain dikisahkan bahwa Jahjah al-Ghifari mendekati `Utsman yang sedang berkhutbah, merebut tongkat dari tangan `Utsman, dan meletakkan di atas lututnya, lalu mematahkannya. Orang-orang menjerit. Allah lalu menimpakan penyakit pada lutut Jahjah dan tidak sampai setahun ia meninggal. (Riwayat Ibnu Sakan dari Falih bin Sulaiman yang saya kemukakan dalam kitab Hujjatullah `ala al-Alamin)

Diceritakan bahwa Abdullah bin Salam mendatangi `Utsman r.a. yang sedang dikurung dalam tahanan untuk mengucapkan salam kepadanya. ‘Utsman bercerita, “Selamat datang saudaraku. Aku melihat Rasulullah Saw dalam ventilasi kecil ini. Rasulullah bertanya, “Utsman, apakah mereka mengurungmu?’ Aku menjawab, `Ya.’ Lalu beliau memberikan seember air kepadaku dan aku meminumnya sampai puas. Rasulullah berkata lagi, `Kalau kau mau bebas.niscaya engkau akan bebas, dan kalau kau mau makan bersama kami mari ikut kami.’ Kemudian aku memilih makan bersama mereka.” Pada hari itu juga, `Utsman terbunuh.

Menurut Jalaluddin al-Suyuthi, kisah ini adalah kisah masyhur yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis dengan beberapa sanad berbeda, termasuk jalur sanad Harits bin Abi Usamah. Menurut Ibnu Bathis, apa yang dialami ‘Utsman adalah mimpi pada saat terjaga sehingga bisa dianggap karamah. Karena semua orang bisa bermimpi ketika tidur, maka mimpi ketika tidur tidak termasuk kejadian luar biasa yang bisa dianggap sebagai karamah. Hal ini disepakati oleh orang yang mengingkari karamah para wali. (Dikutip dalam Tabaqat al-Munawi dari kitab Itsbat al-Karamah karya Ibnu Bathis)

Sumber : hannanramdhaniassegaf

17 Januari 2011 Posted by | sahabat rasul, Uncategorized | , | Tinggalkan komentar

Kesederhanaan Umar ibn al-Khaththab r.a

Tatkala ‘Umar ibn al-Khaththâb r.a. diangkat menjadi Khalifah, ditetapkanlah baginya tunjangan sebagaimana yang pernah diberikan kepada Khalifah sebelumnya, yaitu Abû Bakar r.a. Pada suatu saat, harga-harga barang di pasar mulai merangkak naik. Tokoh-tokoh Muhajirin seperti ‘Utsmân, ‘Alî, Thalhah, dan Zubair berkumpul serta menyepakati sesuatu. Di antara mereka ada yang berkata, “Alangkah baiknya jika kita mengusulkan kepada ‘Umar agar tunjangan hidup untuk beliau dinaikkan.Jika ‘Umar menerima usulan ini, kami akan menaikkan tunjangan hidup beliau.”

‘Alî kemudian berkata, “Alangkah bagusnya jika usulan seperti ini diberikan pada waktu-waktu yang telah lalu.”

Setelah itu, mereka berangkat menuju rumah ‘Umar. Namun, Utsmân menyela seraya berkata, “Sebaiknya usulan kita ini jangan langsung disampaikan kepada ‘Umar. Lebih baik kita memberi isyarat lebih dulu melalui puteri beliau, Hafshah. Sebab, saya khawatir, ‘Umar akan murka kepada kita.”

Mereka lantas menyampaikan usulan tersebut kepada Hafshah seraya memintanya untuk bertanya kepada ‘Umar, yakni tentang bagaimana pendapatnya jika ada seseorang yang mengajukan usulan mengenai penambahan tunjangan bagi Khalifah ‘Umar.

“Apabila beliau menyetujuinya, barulah kami akan menemuinya untuk menyampaikan usulan tersebut. Kami meminta kepadamu untuk tidak menyebutkan nama seorang pun di antara kami,” demikian kata mereka.

Ketika Hafshah menanyakan hal itu kepada ‘Umar, beliau murka seraya berkata, “Siapa yang mengajari engkau untuk menanyakan usulan ini?”

Hafshah menjawab, “Saya tidak akan memberitahukan nama mereka sebelum Ayah memberitahukan pendapat Ayah tentang usulan itu.”

‘Umar kemudian berkata lagi, “Demi Allah, andaikata aku tahu siapa orang yang mengajukan usulan tersebut, aku pasti akan memukul wajah orang itu.”

Setelah itu, ‘Umar balik bertanya kepada Hafshah, istri Nabi saw., “Demi Allah, ketika Rasulullah saw. masih hidup, bagaimanakah pakaian yang dimiliki oleh beliau di rumahnya?”

Hafshah menjawab, “Di rumahnya, beliau hanya mempunyai dua pakaian. Satu dipakai untuk menghadapi para tamu dan satu lagi untuk dipakai sehari-hari.”

‘Umar bertanya lagi, “Bagaimana makanan yang dimiliki oleh Rasulullah?”

Hafshah menjawab, “Beliau selalu makan dengan roti yang kasar dan minyak samin.”

‘Umar kembali bertanya, “Adakah Rasulullah mempunyai kasur di rumahnya?”

Hafshah menjawab lagi, “Tidak, beliau hanya mempunyai selimut tebal yang dipakai untuk alas tidur di musim panas. Jika musim dingin tiba, separuhnya kami selimutkan di tubuh, separuhnya lagi digunakan sebagai alas tidur.”

‘Umar kemudian melanjutkan perkataannya, “Hafshah, katakanlah kepada mereka, bahwa Rasulullah saw. selalu hidup sederhana. Kelebihan hartanya selalu beliau bagikan kepada mereka yang berhak. Oleh karena itu, aku pun akan mengikuti jejak beliau. Perumpamaanku dengan sahabatku—yaitu Rasulullah dan Abû Bakar—adalah ibarat tiga orang yang sedang berjalan. Salah seorang di antara ketiganya telah sampai di tempat tujuan, sedangkan yang kedua menyusul di belakangnya. Setelah keduanya sampai, yang ketiga pun mengikuti perjalanan keduanya. Ia menggunakan bekal kedua kawannya yang terdahulu. Jika ia puas dengan bekal yang ditinggalkan kedua kawannya itu, ia akan sampai di tempat tujuannya, bergabung dengan kedua kawannya yang telah tiba lebih dahulu. Namun, jika ia menempuh jalan yang lain, ia tidak akan bertemu dengan kedua kawannya itu di akhirat.”

( Târîkh ath-Thabarî, jilid I, hlm. 164).

Sumber : forum islam

8 Januari 2011 Posted by | sahabat rasul, Uncategorized | , , | 2 Komentar

jangan larut dalam pesta tahun baru yang melalaikan

pesta pergantian tahun baru masehi selalu ramai
dengan pesta perayaan yang begitu mewah dan
terkadang penuh dengan pelampiasan kegembiraan
yang sungguh tak terkendali, kita sebagai ummat
Islam sepatutnya sangat berhati-hati dalam
memperlakukan tahun baru masehi ini, sebab terkadang kita sebagai ummat Islam turut larut dalam
pesta yang sesungguhnya milik kaum nasrani yang
pada hakikatnya adalah ummat yang telah
disegerakan kenikmatan-kenikmatannya didunia ini
namun tak akan mendapatkan seperti apa yang akan
didapat ummat Islam yaitu surga yang kenikmatannya jauh melebihi dengan nikmat yang
ada didunia saat ini. sehebat apapun pesta perayaan tahun baru masehi
2010 ke 2011 ini hendaknya kita menyikapinya
dengan taubat yang lebih banyak, perenungan yang
mendalam akan hakikat dari hidup kita didunia ini,
renungkanlah bahwa sesungguhnya pesta pergantian
tahun yang akan kita rayakan pada hakikatnya semakin mendekatkan diri kita pada ajal dan akhir
hayat kita di dunia ini, renungkanlah bahwa tak
sedikit manusia-manusia yang lalai di malam
pergantian tahun baru itu meninggal dunia disaat
mereka sedang dalam kegembiraan yang melalaikan,
meninggal dunia tatkala ia tengah berkonvoi di jalan- jalan menyambut tahun baru ini, meninggal dunia
tatkala ia tengah merayakan pergantian tahun baru
dengan meneguk minuman-minuman keras sebagai
bentuk kegembiraan yang berlebih-lebihan terhadap
pergantian tahun, meninggal tatkala ia begitu takjub
dengan berbagai pernik-pernik kemewahan malam tahun baru sehinggah ia lupa ingat kepada ALLAH,
meninggal tatkala berada ditempat-tempat maksiat
yang terkadang di sulap menjadi tempat pergantian
malam tahun baru yang diajadikan sebagai penarik
kunjungan bagi para pecinta dunia. jikalau kita menyaksikan yang demikian tengah
melanda ummat Islam yang sesungguhnya adalah
ummat yang seharusnya selalu menjadi ummat yang
tidak lalai dan berlebihan dalam sebuah kegembiraan
yang sesungguhnya melalaikan seperti perayaan
tahun baru masehi 2010 ke 2011 ini sepatutnyalah kita mampu menasehati dan mendidik diri untuk tidak
ikut-ikutan berlebihan dalam menyikapinya, jadilah
hamba ALLAH yang sedikit dimalam tahun baru
masehi ini, yang sedikit itu adalah memilih untuk
menjadi hamba yang banyak meniteskan air mata di
atas sajadah, banyak merenungi kekurangan diri yang dimalam itu banyak orang lalai dari melihat dsa-
dosanya, jadilah hamba-hamba ALLAH yang
kebahagiaan dalam hatinya bukan dengan perayaan-
perayaan berlebihan namun jadilah hamba ALLAH
yang senantiasa menyendiri dikegelapan malam,
menikmati sentuhan kasih sayang ALLAH disaat sendiri, jadilah hamba ALLAH yang terbuka mata
hatinya melihat apa yang sesungguhnya begitu
berharga dimalam ini.

Sumber; pengumpul hikmah

31 Desember 2010 Posted by | Uncategorized | , , | 1 Komentar

pertanyaan malaikat

Dikisahkan bahwa sewaktu Fatimah r.a. meninggal dunia

maka jenazahnya telah diusung oleh 4 orang iaitu :
1. Ali bin Abi Talib (suami Fatimah r.a)
2. Hasan (anak Fatima r.a)
3. Husin (anak Faimah r.a)
4. Abu Dzafrrin Al-Ghifary r.a

Sewaktu jenazah Fatimah r.a diletakkan di tepi kubur

maka Abu Dzafrrin Al- Ghifary r.a berkata kepada kubur, “Wahai kubur, tahukah kamu jenazah siapakah yang kami bawakan kepada kamu ?
Jenazah yang kami bawa ini adalah Siti Fatimah az-Zahra,

anak Rasulullah S.A.W. ”

Maka kubur berkata, “Aku bukannya tempat bagi mereka yang berderajat atau orang yang bernasab,

adapun aku adalah tempat amal soleh, orang yang banyak amalnya maka dia akan selamat dariku,

tetapi kalau orang itu tidak beramal soleh maka dia tidak akan terlepas dari aku (akan aku memperlalukan dia dengan seburuk-buruknya).

” Abu Laits as-Samarqandi berkata kalau seseorang itu hendak selamat dari siksa kubur hendaklah melazimkan empat perkara :
1. Hendaklah ia menjaga solatnya.
2. Hendaklah dia bersedekah.
3. Hendaklah dia membaca al-Qur ’an.
4. Hendaklah dia memperbanyak membaca tasbih
kerana dengan memperbanyakkan membaca tasbih, ia akan dapat menyinari kubur dan melapangkannya.

Adapun empat perkara yang harus dijauhi ialah :
1. Jangan berdusta.
2. Jangan mengkhianat.
3. Jangan mengadu-domba (jangan suka mencucuk sana cucuk sini).
4. Jangan kencing sambil berdiri.

Rasulullah S.A.W telah bersabda yang bermaksud, “Bersucilah kamu semua dari kencing,
kerana sesungguhnya kebanyakan siksa kubur itu berawal dari kencing. ”
Seseorang itu tidak dijamin akan terlepas dari segala macam siksaan dalam kubur,
walaupun ia seorang alim ulama’
atau seorang anak yang bapanya sangat dekat dengan Allah.

Sebaliknya kubur itu tidak memandang adakah orang itu orang miskin, orang kaya, orang berkedudukan tinggi atau lain sebagainya,

kubur akan meperlakukan seseorang itu mengikut amal soleh yang telah dilakukan sewaktu hidupnya di dunia ini.

Jangan sekali-kali kita berfikir bahwa kita akan dapat menjawab setiap pertanyaan yang dikemukakan oleh dua malaikat Mungkar dan Nakir dengan cara kita menghafal.

Pada hari ini kalau kita berkata kepada saudara kita yang jahil takutlah kamu kepada Allah dan takutlah kamu kepada pertanyaan yang akan dikemukakan ke atas kamu oleh malaikat Mungkar dan Nakir, maka mereka mungkin akan menjawab, “Ah mudah saja, aku bisa menghafal untuk menjawabnya. ”

Itu adalah kata-kata orang yang tidak berfikir.
Seseorang tidak akan dapat menjawab setiap pertanyaan di alam kubur jika dia tidak mengamalkannya

sebab yang akan menjawab ialah amalnya sendiri.

Sekiranya dia rajin membaca al-Qur’an, maka al-Qur ’an itu akan membelanya dan begitu juga seterusnya.

Wallahu`alam

POSTED BY ROHA AT…

27 Desember 2010 Posted by | al-kisah | , , | 3 Komentar

Monotheisme, warisan Syariat Nuh

Ketika bumi dilanda bencana yang maha dahsyat, seluruh peradaban yang ada musnah. Dan yang tersisa adalah Nabi Nuh beserta pengikutnya yang setia. Mereka yang diselamatkan dari bencana, adalah manusia-manusia bertaqwa. Mereka adalah pengikut Syariat Nuh, yang meyakini akan ke-Esa-an Allah (Monotheisme).

Bermula dari pengikut Nabi Nuh inilah, peradaban kembali dimulai, termasuk kepada hal-hal yang berkenaan dengan Sprititual. Dan telah menjadi sebuah kenyataan, jika semua keyakinan-keyakinan utama yang ada pada saat ini, pada hakekatnya percaya kepada Tuhan Yang Esa (Monotheisme), sebagaimana terlihat pada tulisan berikut :

ISLAM

Populasi pengikutnya, sekitar 1.7 miliar dan terkonsentrasi di Timur Tengah, Asia Tengah, Afrika Utara dan Asia Tenggara.

Konsep Ketuhanan menurut Al-Quran :

Al Ikhlas 1-4 “Katakanlah, ‘Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.

KRISTEN

Populasi pengikutnya sebesar 2.1 miliar pemeluk di seluruh dunia, terkonsentrasi di Eropa, Amerika, Australia dan Afrika Tengah dan Selatan.

Konsep Ketuhanan menurut Alkitab :

Markus 12:29 “Maka jawab Yesus kepadanya, hukum yang terutama adalah ‘dengarlah hai Israel, adapun Allah Tuhan kita adalah Tuhan yang Esa’”

Yohanes 5:30, “Maka aku tidak boleh berbuat satu apa pun dari mauku sendiri, seperti aku dengar begitu aku hukumkan dan hukum itu adil adanya, karena tiada aku coba hukum sendiri melainkan maunya Bapa yang sudah mengutus aku.”

HINDU
Populasi pengikutnya, sekitar 800 juta jiwa dan terbanyak berada di India, Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Konsep Ketuhanan menurut Wedha :

Chandogya Upanishard, pasal 6 bag 2 ayat 1, “Akkam avidetuim” artinya Tuhan adalah satu.

Sweta Sutara Upanishard psl 6 ayat 9, “Na kasia kasji janita nakadipa” artinya Dia yg tidak memiliki ibu bapak dan tidak memiliki tuan.

Sweta Sutara Upanishard pasal 4 ayat 19, “Natastya pratima asti” artinya Tdk ada yg serupa dengannya.

BUDDHA
Agama Buddha berkembang sangat pesat di China, Tibet, Thailand dan Asia Selatan. Populasinya sekitar 600 juta jiwa.

Konsep Ketuhanan menurut Buddha :

Sutta Pitaka, Udana VIII : 3 “Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu”

Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya “Tuhan adalah Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”.

KONGHUCU
Konghucu lebih tepat dikatakan sebuah aliran daripada agama, namun aliran ini berkembang pesat juga di China dengan jumlah pemeluk sekitar 100-150 juta jiwa.

Konsep Ketuhanan menurut Konghucu :

1. Sepenuh Iman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Cheng Xin Huang Tian)
2. Sepenuh Iman menjunjung Kebajikan (Cheng Juen Jie De)
3. Sepenuh Iman Menegakkan Firman Gemilang (Cheng Li Ming Ming)
4. Sepenuh Iman Percaya adanya Nyawa dan Roh (Cheng Zhi Gui Shen)
5. Sepenuh Iman memupuk Cita Berbakti (Cheng Yang Xiao Shi)

Konghucu juga mengajarkan hubungan antar sesama manusia atau disebut “Ren Dao” dan bagaimana penganutnya melakukan hubungan dengan Sang Khalik/Pencipta alam semesta (Tian Dao) yang disebut dengan istilah “Tian” atau “Shang Di”.

SIKHISM
Agama non semitik yang tidak dibawa oleh Nabi namun berkembang pesat di Pakistan dan India di sekitar wilayah Punjab. Sang guru bernama Nanak Shahib. Agama Sikh memiliki sekitar 25 juta jiwa pengikut.

Konsep Ketuhanan menurut Sikhism :

Dalam kitab Sri Guru Granth Shahib vol 1 pasal 1 ayat 1 yang disebut Japoji mul Mantra dijelaskan, “Hanya ada satu Tuhan yg eksis, Tuhan yang tdk tampak wujudnya atau Ek Omkara.”

Sikh adalah agama monotheisme menentang avtarvada (reinkarnasi).

YAHUDI
Agama Yahudi tersebar di Israel, Amerika Utara dan Eropa. Jumlah pemeluknya saat ini sekitar 15 juta jiwa.

Konsep Ketuhanan Perjanjian Lama :

Yesaya Pasal 45 ayat 5, “Akulah Tuhan tdk ada yg lain kecuali Allah.”
Keluaran Pasal 20 ayat 3-5, “Jangan ada padamu Allah lain dihadapanku, jangan buat patung yang menyerupai apa pun yg ada di langit dan di bumi dan di dalam air, jangan menyembah pd patung2 itu krn aku adalah Tuhan yg cemburu.”

Ulangan Pasal 5 ayat 7-9, “Jangan ada padamu Allah lain di hadapanku.”

ZOROASTER
Agama non semitik, dibawa oleh Nabi Zoroaster, agama ini berkembang 2500 tahun yang lalu di persia, sekarang di Iran dan India. Pemeluknya saat ini sekitar 4 juta jiwa.

Konsep Ketuhanan menurut Zoroaster :

Kitab Awesta Buku Kitab Yasna psl 31 ayat 7-11, “Tuhan adalah sang pecipta maha besar, tdk memiliki anak dan orang tua.”

(Sumber : Forum Kaskus)

Berdasarkan temuan Geologi, bencana Nuh diperkirakan terjadi pada sekitar 13.000 tahun yang lalu (sumber : Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia), sementara Syariat Nuh sendiri merupakan sumber dari semua keyakinan. Syariat ini juga, yang kemudian diajarkan oleh semua Nabi dan Rasul kepada kaumnya, sebagai suatu aturan keselamatan (Dienul Islam).

Dia telah mensyariatkan bagi kamu ad-dien yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa, yaitu : Tegakkanlah ad-dien dan janganlah kamu berpecah belah didalamnya… (QS. Asy Syura (42) ayat 13)

Dan ketika syariat ini telah sempurna, aturan keselamatan tersebut dinamai Al Islam, yang di-amanatkan kepada penutup Para Nabi dan Rasul, Muhammad Rasulullah.

… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu dienmu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi dien bagimu… (QS. Al Maa-idah (5) ayat 3)

kopas dari; http://kanzunqalam.wordpress.com/

26 Desember 2010 Posted by | kehidupan, Uncategorized | , , , | 1 Komentar

cinta pertama, semalam dimalaya

ada dua cara supaya tak tenggelam kedalam laut; belajar berenang atau menjauh dari laut..

ada dua cara supaya tak binasa dalam bercinta; belajar bercinta dengan sederhana, atau tidak bercinta sama sekali..


september 93′ kualalumpur
masih segar dalam ingatanku

==============

aku yang tenggelam kedalam arus cintamu..

maafkan aku jika coretanku ini tlah mengguris hati dan perasaan atau menyentuh kalbu..
Ini bukanlah sajak atau puisi…

Ini adalah susunan huruf terjemahan suara hati yang nyata pernah kita rasakan bersama..

Aku yg sebenarnya disini masih diulik kerinduan bersama kasih yg pernah disanjung dan dipuja suatu ketika dahulu. Yg pernah mjd bintang dalam diari hidupku..

Tak perlu aku sebut namamu atau ciri khas dirimu,
Biar kau mengerti sendiri yang bicara ini khas buatmu

aku tidak mau ketenanganmu terganggu dibingkisan ini..
Aku tidak mau kedamaianmu terancam dicatatan ini..
Dan aku jg tdk mau kebahagiaanmu terusik dibicara ini..

Aku cuma mahu dikau mengerti yang bicara ini lahir dari aku yang pernah menyentuh sukmamu..

Dulu… Aku yang pernah dikau panggil sayang.
kita salalu bersama tiap ada ruang yang lapang.

Kita sama-sama suka dan bergembira,
sama-sama mengukir janji,
kita sama-sama tersenyum..

memang indah saat itu..

Kita sama-sama memuji,
kita selalu bergandengan tangan, walau kemana kita berada.
kita selalu bersama tiap ada ruang waktu..
Sungguh aku sangat merasakan kebahagiaan saat itu..
kita saling berjanji akan tetap mencintai sampai mati.

kau selalu datang stiap aku merindukan..
kau selalu mengiyakan setiap apa yang aku katakan.

Namun setelah purnama bertukar ganti, segalanya berubah, segalanya musnah.

aku yang rebah tak berdaya, ketika mendengar orangtuamu tak merestui cinta kita.

dalam derajat yang rendah, dan usia yang masih mentah, aku tak berdaya meyakinkan keluargamu, bahwa aku juga punya cinta yang luar biasa..


Kini tinggal sepenggal catatan dlm ingatan,
ketika kutatap matamu mulai meredup,
aku tahu dukamu tak terukur,
memahami sedih dihati,
namun yg ada hny kagum dlm sesaknya dada,

benarkah ini kenyataan?,

kau tertunduk kristal itu terlepas mengalir dipipimu.
Menangis tanpa nada, kutatap paras sendumu kau sangat berduka. Kucoba utk mengerti antara mimpi dan nyata..
Tp tak dpt kulakukan antara hiba dan ragu..
kita bagai disandingkan antara mimpi dan impian.

Benarkah ini kenyataan..??

Akhirnya apa yg kan terjadi kini tlah terjadi,
lukaku perih krn senymu yg hilang.
Kini kata tak lg bermakna. Dan tinta tak lg pny arti,
namun sejuta pesonamu akan tetap abadi dlm ingatanku.
Cintamu tetap aku jdkan kenangan,
dan aku simpan diam2 didalam dada,
sebagai hadiah indah yang rahasia..

Terima kasih kerana kau tlah ciptakan sejarah dlm hidupku.
do’aku, semoga kau selalu ditaburi bunga-bunga bahagia tiap detik dan ketika. bersama suami dan anak-anak tercinta..

demi Allah, tidak ada niat untuk membuka luka lama dengan terpajangnya coretan di atas.
aku sudah menghapus semuanya,,, sungguh.

aku hanya ingin berbagi dengan seorang sahabat, yang hatinya baru saja diremukkan.
aku sendiri sulit membayangkan bagaimana perih dan sakitnya,
hanya bisa mengira-ngira.
karena, sebagaimana terbaca dalam coretan di atas,
aku pun pernah terluka..
sangat terluka..
.
.
by; yang pernah mencintaimu

13 Desember 2010 Posted by | cinta, Uncategorized | Tinggalkan komentar

Penyair

Dia adalah rantai penghubung
Antara dunia ini dan dunia akan datang
Kolam air manis buat jiwa-jiwa yang kehausan,
Dia adalah sebatang pohon tertanam
Di lembah sungai keindahan
Memikul bebuah ranum
Bagi hati lapar yang mencari.

Dia adalah seekor burung ‘nightingale’
Menyejukkan jiwa yang dalam kedukaan
Menaikkan semangat dengan alunan melodi indahnya

Dia adalah sepotong awan putih di langit cerah
Naik dan mengembang memenuhi angkasa.
Kemudian mencurahkan kurnianya di atas padang kehidupan. Membuka kelopak mereka bagi menerima cahaya.

Dia adalah malaikat diutus Yang Maha Kuasa mengajarkan Kalam Ilahi.
Seberkas cahaya gemilang tak kunjung padam.
Tak terliput gelap malam
Tak tergoyah oleh angin kencang
Ishtar, dewi cinta, meminyakinya dengan kasih sayang
Dan, nyanyian Apollo menjadi cahayanya.

Dia adalah manusia yang selalu bersendirian,
hidup serba sederhana dan berhati suci
Dia duduk di pangkuan alam mencari inspirasi ilham
Dan berjaga di keheningan malam,
Menantikan turunnya ruh

Dia adalah si tukang jahit yang menjahit benih hatinya di ladang kasih sayang
dan kemanusiaan menyuburkannya

Inilah penyair yang dipinggirkan oleh manusia
pada zamannya,
Dan hanya dikenali sesudah jasad ditinggalkan
Dunia pun mengucapkan selamat tinggal dan kembali ia pada Ilahi

Inilah penyair yang tak meminta apa-apa
dari manusia kecuali seulas senyuman
Inilah penyair yang penuh semangat dan memenuhi
cakerawala dengan kata-kata indah
Namun manusia tetap menafikan kewujudan keindahannya

Sampai bila manusia terus terlena?
Sampai bila manusia menyanjung penguasa yang
meraih kehebatan dgn mengambil kesempatan??
Sampai bila manusia mengabaikan mereka yang boleh memperlihatkan keindahan pada jiwa-jiwa mereka
Simbol cinta dan kedamaian?

Sampai bila manusia hanya akan menyanjung jasa org yang sudah tiada?
dan melupakan si hidup yg dikelilingi penderitaan
yang menghambakan hidup mereka seperti lilin menyala
bagi menunjukkan jalan yang benar bagi orang yang lupa

Dan oh para penyair,
Kalian adalah kehidupan dalam kehidupan ini:
Telah engkau tundukkan abad demi abad termasuk tirainya.

Penyair..
Suatu hari kau akan merajai hati-hati manusia
Dan, kerana itu kerajaanmu adalah abadi.

Penyair..periksalah mahkota berdurimu..kau akan menemui kelembutan di sebalik jambangan bunga-bunga Laurel…

(Dari ‘Dam’ah Wa Ibtisamah’ -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)

~ Kahlil Gibran

7 Desember 2010 Posted by | khalil gibran, Uncategorized | , , , | Tinggalkan komentar

Biografi Khalil Gibran (1883-1931)

Khalil Gibran was born in Bechari (Bsharri), Lebanon, a mountain village of Maronite Christians. A talented child, he was modelling, drawing, and writing at an early age. Gibran’s mother took her children to the United States, but their father remained in Lebanon.

The family settled first in Boston, then in New York. Gibran returned to Lebanon in 1897 for two years to study Arabic literature in Beirut at al-Hikma College. Gibran’s artistic talents was recognized early and he was introduced to F. Holland Day, a photographer, who tutored him in art and literature. Through Day Gibran was given entrée to Boston society, where he acquired valuable contacts. Gibran’s mother died when he was 20. His sister supported him while he established himself as a writer and painter. Gibran’s most ardent benefactress was Mary Haskell, the headmistress of a progressive girl’s school in Cambridge. She supported her protégé financially for most of his career.

In 1904 Gibran had his first art exhibition in Boston. His first book, AL-MUSIQA (1905) was about music. It was followed by two collections of short stories and a novelette in 1912. From 1908 to 1910 he studied art in Paris with August Rodin. In 1912 he settled in New York, where he devoted himself to writing and painting. Though concerned with the transcendental in his books, the basic subject in Gibran’s art was naked human bodies, tenderly intertwined .

Gibran’s early works were written in Arabic and are considered central to the development of modern Arabic literature. Gibran also wrote for journals published by the Lebanese and Arab communities in the U.S. From 1918 he wrote mostly in English and managed to revolutionize the language of poetry in the 1920s and 1930s. His first book for the publishing company Alfred Knopf was THE MADMAN (1918), a slim volume of aphorisms and parables written in biblical cadence somewhere between poetry and prose.

Usually Gibran used prophetic tone to condemn the evils that torment his homeland or threaten the humankind. His style, a combination of beauty and spirituality, became known as ‘Gibranism’. “I am a stranger to myself. I hear my tongue speak, but my ears find that voice strange. I may see my hidden self laughing, crying, defiant frightened, and thus does my being become enamored of my being and thus my soul begs my soul for explanation. But I remain unknown, hidden, shrouded in fog, veiled in silence.” (from ‘The Poet’)

In 1920 he founded a society for Arab writers called “Aribitah” (the pen bond), and supported the struggle to revolutionize the classically conservative Arabic literature. A very important channel for new ideas was Al Magar, the first New York Arabic newspaper, that Gibran wrote for. Other influential writers included Mikha’il Nu’aima (1889-1988), Iliya Abu Madi (1889-1957), Nasib Arida (1887-1946), Nadra Haddad (1881-1950), and Ilyas Abu Sabaka (1903-47). Especially Mikha’il Nu’aima’s critical writings paved way to new freedom in poetic expression. Although Gibran was not a great poetry in verse, and most of his writings in prose should not be regarded as ‘poetry’, he opened doors to a new kind of creativity. Salma Khadra Jayyusi wrote in 1987 that Gibran’s rhythm “fell on ears like magic, intoxicating in its frequent use of interrogations, repetitions, and the vocative; by a language which was at once modern, elegant, and original; and by an imagery that was evocative and imbued with a healthy measure of emotion. His vision of a world made sterile by dead mores and conventions but redeemable through love, good will, and constructive action deepened his readers’ insights en enlightened their views of life and man.”

Gibran died of liver disease, possibly accelerated by alcoholism, in New York on April 10, 1931. Upon his death, his body was shipped back to his hometown in Lebanon, where alongside his tomb The Gibran Museum was later established. In his will Gibran left all the royalties of his books to his native village.

“When the souls rise in the
light of their joy, my soul ascends glorified by the
dark of grief.
I am like you, Night! And when my morn comes, then
my time will end.”

Gibran’s best-known work is THE PROPHET, a partly autobiographical book of 26 poetic essays, which has been translated into over 20 languages. The Prophet, who has lived in a foreign city 12 years, is about to board a ship that will take him home. He is stopped by a group of people, whom he teaches the mysteries of life. The resulting 26 sermons are meant to emancipate the listeners. In the 1960s The Prophet became a counterculture guide and in the 1980s the message of spiritualism overcoming material success was adopted by Yuppies. Critics have not treated the book well. Its mystical poetry is frequently read at weddings even today. Among Gibran’s other popular books is THE EARTH GODS (1931), a dialogue in free verse between three titans on the human destiny.

5 Desember 2010 Posted by | khalil gibran, Uncategorized | Tinggalkan komentar